Terkini.News  | Pati - Dukungan KH Said Aqil Siradj terhadap pencalonan KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode mendatang disebut tidak semata-mata didasarkan pada hubungan keduanya dalam struktur organisasi. Dukungan tersebut juga berangkat dari adanya kesamaan pandangan mengenai arah dan agenda Nahdlatul Ulama ke depan.

KH Said Aqil Siradj, yang pernah memimpin PBNU selama dua periode pada 2010-2021, dalam sebuah seminar nasional beberapa waktu lalu menyatakan dukungan terhadap ikhtiar Gus Rozin untuk maju dalam bursa Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar ke-35 NU.

Dukungan tersebut muncul di tengah rangkaian silaturahim Gus Rozin dengan jajaran pengurus NU di berbagai daerah. Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Kesamaan gagasan antara Said Aqil dan Gus Rozin terutama terlihat pada perhatian terhadap penguatan pesantren, kemandirian jam'iyyah, serta penguatan posisi NU sebagai shodiqul hukumah atau kekuatan masyarakat sipil yang mampu bekerja konstruktif bersama pemerintah tanpa kehilangan independensinya.

Pesantren sebagai Basis Kekuatan NU

Salah satu titik temu gagasan keduanya berada pada posisi pesantren dalam kehidupan Nahdlatul Ulama. Bagi Gus Rozin, pesantren tidak hanya menjadi lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga merupakan basis sosial, intelektual dan kaderisasi yang selama ini ikut membentuk karakter NU.

Karena itu, penguatan pesantren ditempatkan sebagai bagian penting dari agenda memperkuat jam'iyyah. Pesantren dinilai memiliki peran strategis dalam mencetak kader, menjaga tradisi keilmuan sekaligus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat.

Pandangan tersebut tidak terlepas dari pengalaman panjang Gus Rozin dalam dunia pesantren dan organisasi NU. Ia pernah dipercaya sebagai Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU Jawa Tengah periode 2013-2015, sebelum kemudian menjadi Ketua RMI PBNU periode 2015-2021.

Ketika memimpin RMI PBNU, Gus Rozin terlibat dalam berbagai agenda yang berkaitan dengan penguatan pesantren dan santri. Di antaranya pengawalan lahirnya Undang-Undang Pesantren, Liga Santri Nasional, Gerakan Ayo Mondok, Hari Santri Nasional serta berbagai program pemberdayaan pesantren.